[Opini] Utopia Jalan Bareng Pemkab Banyumas

Bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) adalah cita-cita yang terus diperjuangkan Komunitas Blogger Banyumas, dan mungkin komunitas-komunitas lain.

Berharap duitnya?
Nggak juga.

Bagaimana berharap uang pemerintah, jika baru bertemu dengan mereka saja hal pertama yang kita dengar selalu curhatan Pemkab tentang keterbatasan anggaran -_-

Entahlah, kenapa tidak pernah terbayang di benak mereka, komunitas-komunitas ini dari dulu juga tidak pernah punya anggaran tapi kegiatan selalu ada.

Jadi kenapa pengen jalan bareng Pemkab?
Mungkin lebih karena rasa malu.

Malu karena pertanyaan-pertanyaan : “Memangnya tidak mengajak kerjasama Pemkab Banyumas?”, “Memangnya Pemkab Banyumas tidak dikasih tahu?” , yang terlontar dari kawan-kawan luar daerah ketika kita berkegiatan tanpa terindikasi sama sekali kerjasamanya dengan Pemkab Banyumas.

Juga malu karena materi desain promosi dari Pemkab Banyumas sebagai media yang bisa dijadikan materi promosi Komunitas Blogger Banyumas di internet, sungguh “enggak banget”.

Contoh adalah poster Kalender Event 2017 di bawah ini :

kalender event banyumas 2017

Bisa bacanya tanpa dizoom dan tanpa pingsan?
#siulsiul

Beberapa kali untuk ragam jenis tema, saking gregetan-nya, teman-teman komunitas desain membuat “versi manusiawinya”. Kemudian itulah yang disebarkan para netizen di internet.

Baiklah, baiklah… “sing waras ngalah”

Selain punya tugas mulia untuk tetap memberikan manfaat bagi kehidupan Banyumas, mari kita coba untuk menunjukkan jalan hidayah pada Pemkab… #mbwahaha 😀 #trusdikeplak

komunitas blogger banyumas bersama bappeda

Ndilalah, jalur Komunitas Blogger Banyumas ke Pemkab lewat Bappedalitbang Banyumas. Beberapa kali diajak ketemuan, diajak ke Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Daerah, terakhir diajak kumpul bareng komunitas, seniman, budayawan, dinas-dinas daerah (OPD / Organisasi Perangkat Daerah).

Jadilah, setelah berkarya dan berteriak dari luar, saatnya merangsek ke dalam… #wohoho

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, selalu disimpulkan… bahkan tidak perlu disimpulkan sebetulnya. Seperti ditulis di paragraf awal. Pemkab selalu curhat :

1. Kurang Anggaran
2. Kurang Tenaga
3. Selalu dibatasi aturan-aturan

Lha kan sama aja kondisinya di komunitas, kan.

Dengan kondisi yang sama, apakah trus jadi sama-sama meratapi nasib, kah?

Padahal rika si mesih tetep olih gaji, wa -_-

Jadi, seharusnya yang muncul adalah : “Apa yang bisa sama-sama kita lakukan?”

Komunitas-komunitas memiliki ide dan karya-karya,
Pemerintah mempunyai kekuasaan.

Dari situ saja, sudah bisa terbayang sederhananya :

“Jika komunitas-komunitas menginginkan terwujudnya sebuah ide karya, Pemkab segera memfasilitasi”.

Sekali lagi (siapa tahu dibaca Pemkab… yang memang harus diulang-ulang kalo bicara dengan mereka), memfasilitasi tidak selalu berhubungan dengan ketersediaan dana.

Contoh riilnya :
Komunitas A ingin menggelar acara di Alun-alun, ya langsung saja Pemkab fasilitasi ini. Kalau memang diijinkan, Pemkab yang mempercepat proses perijinannya.

Karena memang Pemkab lah yang jagoan soal rumitnya birokrasi.

Kalau komunitas sendiri yang harus mengurus perijinan, dilempar ke bagian sana – sini hanya sekedar mendapatkan stempel untuk syarat stempel berikutnya… sungguh, insan waras manapun akan lebih memilih lokasi lain, Pak.

Ingatlah (siapa tahu dibaca Pemkab… yang memang harus diulang-ulang kalo bicara dengan mereka (2), hakekat Pemerintah itu “me-merintah” entitas raksasa lainnya, demi kemudahan rakyatnya… bukan sebaliknya. Termasuk “nodong-nodong” pihak swasta untuk turut serta mendukung kegiatan-kegiatan komunitas ini.

Kalo ndak bisa “nodong” ya nego-nego, kalo ndak bisa negosiasi… ya sekolah negosiasi lah.

Demikianlah. Pada pertemuan terakhir dengan Bappeda dan multistake-holder lainnya, sepertinya ada titik kemajuan jalan bareng Pemkab Banyumas.

Berharap banyak?
Nggak juga.

Sebelum benar-benar terwujud berjalan bersama, bergandengan tangan mesra dan saling pengertian antara komunitas-komunitas dengan Pemkab Banyumas, mari tetap berkarya dan berteriak dari luar.

Saat ada kesempatan, kita merangsek ke dalam.

Demikian seterusnya.
Tidaklah perlu membenci salah satu caranya 🙂

Tidak bisa terwujud sekarang, semoga mendapat hidayah di generasi mendatang.

jadi curiga kenapa Banyumas sudah lama tidak ada penerimaan PNS, mungkin untuk menghabiskan dulu generasi yang sekarang… #eh

(tulisan ini adalah apa yang saya sampaikan secara langsung di kesempatan Musrenbang Daerah dan di pertemuan dengan Bappeda Litbang Banyumas)

Salim dan salam,

Pradna
(Anggota hore-hore Komunitas Blogger Banyumas)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *